Tekan Penyebaran Rabies di Badung Kementrian Pertanian Gelar Rakor pemberantasan penyakit Rabies

         Dalam rangka koordinasi program pengendalian dan pemberantasan penyakit Rabies, Direktur Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian RI menggelar Rakor. Senin (15/2) kemarin, bertempat di ruang Kriya Gosana Pusat Pemerintahan Mangupraja Mandala. Rakor ini dibuka Direktur Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian RI diwakili Direktur Kesehatan Hewan I Ketut Diatmika didampingi Pj. Bupati Badung Nyoman Harry Yudha Saka dan dihadiri Kadis Pertenakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali I Putu Sumantra, Kadis Kesehatan Provinsi Bali I Ketut Suarjaya, FAO, Emergency Centre For Transboundary Animal Diseases Indonesia, Instansi yang menangani urusan peternakan Kabupaten/kota se-Bali, Kepala Balai Besar Veterinery yang mewilayahi Bali, NTB dan NTT serta Kepala Balai Karantina kelas I Denpasar.

        Pj. Bupati Badung Nyoman Harry Yudha Saka dalam sambutannya menyampaikan, Kabupaten Badung dengan luas wilayah 418,52 km2 yang secara administratif terdiri dari; 6 Kecamatan, 46 Desa dan 16 Kelurahan dengan jumlah penduduk 602.700 jiwa. Dari jumlah penduduk tersebut 25.411 rumah tangga menekuni bidang pertanian dalam arti luas dan untuk bidang peternakan sebanyak 9.914 rumah tangga. Pemerintah Kabupaten Badung terhadap pembangunan peternakan cukup besar, hal ini tercermin dalam kebijakan dan program yang holistik dari hulu hingga ke hilir yang didukung oleh adanya sinergitas yang padu antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten. Di bagian hulu ditandai dengan terbangunnya pengembangan Sentra pembibitan Ternak Sapi Bali, di Desa Sobangan Kecamatan Mengwi yang sepenuhnya didanai oleh Pemda Badung dan pengembangan Sentra Peternakan Rakyat (SPR) Sapi di Kecamatan Petang serta dari sisi kelembagaan Pemerintah Kabupaten Badung memperkuat kelembagaan petani ternak dalam wadah Koperasi Mitra Tani Sejahtera. Sedangkan di bagian hilir dengan menyiapkan sarana dan prasarana Rumah Potong Hewan (RPH) dan pasar hewan yaitu; Pasar Hewan Beringkit yang merupakan pasar hewan terbesar di Bali dilengkapi sarana prasarana TV LED/Video Tron untuk menginformasikan harga serta telah menggunakan Timbangan Digital dalam melakukan transaksi jual beli ternak.

        Lebih lanjut Yudha saka menyampaikan, berkenaan dengan kasus penyakit Rabies dapat disampaikan bahwa kasus ini pertama kali ditemukan di Bali pada tanggal 28 Nopember 2008 di kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta, hingga saat ini belum dapat dibebaskan bahkan pada tahun 2015 kasus di Provinsi Bali mengalami peningkatan pesat. Pada tahu 2014, ditemukan kasus Rabies sebanyak 132 kasus dan meningkat tahun 2015 menjadi 531 kasus (400%). Peningkatan kasus hampir terjadi di seluruh Kabupaten/Kota se-Bali. Sedangkan untuk Kabupaten Badung pada tahun 2014 ditemukan 5 kasus meningkat menjadi 15 kasus tahun 2015. Menyikapi kondisi ini Pemerintah Kabupaten Badung telah menerapkan strategi penanggulangan penyakit Rabies melalui sosialisasi KIE (Komunikasi Informasi Edukasi), melakukan Vaksinasi massal Rabies, melakukan eliminasi, pengawasan lalu lintas HPR, kontrol populasi dan Surveillance Monitoring.

        Sementara itu Direktur Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian RI I Ketut Diatmika menyampaikan, kasus Rabies yang terjadi di Bali harus segera diatasi jangan sampai banyak terjadi korban dan kasusnya meningkat. Langkah-langkah yang akan ditempuh adalah meningkatkan Vaksinasi, menyediakan Vaksin yang berkualitas baik, membentuk Tim untuk membantu Pemerintah Provinsi Bali dalam program pemberantasan yang lebih detail.

No Comment