Sejarah

Sejarah Singkat Kelurahan Tuban


Kelurahan Tuban terdiri dari 2 ( dua ) Desa Adat yaitu Desa Adat Kelan dan Desa Adat Tuban. Guna mengenal sejarah Kelurahan  Tuban perlu kiranya juga mengetahui sejarah dari kedua desa adat tersebut :


a. Desa Adat Tuban 
    Pada abad 14-15 Masehi dalam ranghka mempersatukan wilayah Nusantra dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit termasuk juga penaklukan serangan di Bali, dimana saat itu Laskar atau Armada laut Majapahit melalukan serangan dari arah barat dan turun hingga berlabuh di pantai  sebelah barat lapangan udara di Tuban,  yang sekarang dikenal dengan Bandara Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Pada saat perahu beserta Laskar Majapahit berlabuh/turun di pantai, dihantam gelombang besar sehingga perahu tersebut pecah dan karam, sampai saat ini tempat itu disebut oleh masyarakat dengan Dalem Perahu atau Pelabuhan Perahu. Bekas dari pada kuburan laskar majapahit dan perahunya yang terletak tepat di tengah-tengah lapangan udara itu masih kita temukan saat ini, namun dengan adanya perluasan dan perlebaran areal dari lapangan udara, kuburan dari laskar majapahit tersebut sudah dipugar/dipindahkan sebanyak dua kali. 
    Karena laskar atau Armada Kerajaan Majapahit tersebut terdiri dari orang-orang Jawa Timur, serta berangkat dari Pelabuhan Tuban. Dalam perkembangannya untuk mengenang tempat asal mereka, maka daerah alas atau hutan tempat dimana mereka turun atau berlabuh dipakai oleh para raja-raja Badung untuk menguji dari pada istri-istrinya yang dipandang durhaka atau jahat, bila terbukti jahat mereka akan langsung dibuang kedalam alas atau hutan tersebut. Apabila para istri raja itu baik maka akan selamat tetapi bila ternyata durhaka maka dia akan mati di dlam hutan tersebut. Sehingga lama kelamaan hutan tersebut menjadi angker atau keramat, karena begitu angkernya atau keramatnya hutan itu sehingga olehmasyarakat hutan tersebut disebut Taeban (Ngeri) dan akhirnya samapai saat ini daerah itu disebut dengan Desa Tuban yang diambil dari kata Taeban.


b. Desa Adat Kelan
    Kata Kelan berasal dari kata Kelen yang berarti kukuh atau taat yang bahasa balinya berarti Tuwon. Pada abad ke 15 atas kalahnya perang Sagung Maruti ( Jaman Gelgel ) beliau lari dari Gelgel bersama-sama dengan rakyatnya yang masih setia menuju ke tempat bagian timur dari daerah Desa Kelan sekarang ini dan kemudian ada beberapa rakyatnya yang menetap disana, yang mana ditempat itu sudah ada juga nelayan atau menega dengan sebutan Menega Saman Jaya yang memiliki kekhasan dimana alat-alat dayung yang dipergunakan untuk melaut sangat besar-besar juga tempat bekalnya berlayarnya pun (bahasa balinya disebut betekan ) sangat besar.
    Menurut Babad Danghyang Nirartha waktu beliau akan moksa ke Pura Luhur Uluwatu kebetulan lontarnya ada yang tertinggal di tempat ini, amaka oleh beliau di tugaskanlah menega tersebut untuk membawa lontarnya ke Desa Mas ( Gianyar ) oleh karena ketaatannya menega tersebut menjalankan perintah itu maka oleh Danghyang Nirartha, menega tersebut diberi gelar pasek Menega Tambangan dan juga tempat dimana Menega Sasman Jaya itu berasal di berinama Kelen ( taat ) dan akhirnya disebut Desa Kelan sampai dengan saat ini.
    Selain tersebut di atas, Kelurahan Tuban juga memiliki sejarah  kepemimpinan kepala desa. Keperbekelan desa di Tuban pertama kali dipimpin oleh seorang perbekel pada waktu itu bernama I Wayan Ripeg tahun 1925. Wilayah Tuban waktu itu meliputi Desa Adat Tuban, Desa Kelan, Desa Kedonganan
    Sejak 1982 Keperbekelan Tuban berubah status menjadi kelurahan, dan perbekelnya I Gede Pegeg diangkat menjadi Kepala Kelurahan Tuban. Pada Tanggal 25 Nopember 1997 Kelurahan Tuban dipecah menjadi dua yaitu Kelurahan Tuban dengan wilayah Desa Adat Tuban dan Desa Adat Kelan serta Kelurahan Kedonganan mewilayahi Desa Adat Kedongan sesuai dengan Keputusan Gubernur Nomor 643 Tahun 1997. Dan dalam perkembangannya, Kelurahan Tuban  pernah dipimpin oleh Perbekel/Kepala Kelurahan sebagai berikut :


1. I Wayan Ripeg                 (     1925    )
2. I Wayan Ranteg                     (1925-1945)
3. I Gede Pegeg                 (1945-1965)
4. I Nyoman Sondra         (1965-1968)
5. I Made Kodet                 (1968-1970)
6. I Nyoman Sondra                     (1971-1972)
7. I Gede Pegeg                 (1973-1983)
8. I Made Ari                 (1983-1993)
9. I Gede Rai Wijaya                 (1993-2003)
10. I Made Kadi                         (2003-2006)
11. I Ketut Lenen                 (2006-2009)
12. I Wayan Weda Dharmaja,S.Sos, M.Si (     2010    )
13. Drs  I Gede Raka         (2010-2014)
14. I Ketut Murdika, S.STP         (2014-Sekarang)